Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Cerita Ngentot Anal Sex di Pertemuan Lanjutan

 Tradingan.com - Selepas Makan Siang, telepon genggamku bergetar hebat, menampilkan nomor +62266xx di layarnya. 0266, dari kota manakah itu? Pikirku dalam hati. Dengan hati-hati kutekan tombol “Answer”, lalu terdengar suara halus dari ujung sebelah sana.

“.. Kang, ini Euis (bukan nama asli). Masih ingat? ..”.
Jantungku seakan berhenti mendengar nama itu. Dari mana dia tahu nomor telepon genggamku ini? Segera berkelebat bayangan dalam pikiranku, bagaimana ia kuperawani satu minggu yang lalu, di sebuah penginapan di Selabintana. Mukanya yang manis, tubuhnya yang mungil dan seksi, dan matanya yang menatapku lekat-lekat sambil berlinang air mata saat kegadisannya kurenggut malam itu.


“.. Ee, tentu masih dong. Apa kabar? Gimana juga khabar Nyai? ..”
jawabku dengan suara yang kubuat setenang mungkin.
“.. Baik Kang, kok nanyain Nyai terus sih? ..”
lanjutnya dengan nada suara yang kurang senang.
“.. Kang, kapan mampir ke sini lagi, Euis kangen ingin ketemu lagi dengan akang ..” lanjutnya. Aku tersentak menyadari akan keadaan yang sulit dan serba salah, yang akan kuhadapi selanjutnya. Kangen? Ini bahaya, ini tidak boleh terjadi. Aku selalu berusaha untuk tidak meninggalkan kesan mendalam dalam setiap petualangan-petualangan nakalku. Aku tidak ingin terlibat lebih lanjut dengan gadis dan wanita yang pernah berhubungan denganku. Tubuh dan nafsuku mungkin saja kuumbar dan dimiliki sesaat oleh beberapa gadis dan wanita, tapi hati dan cintaku hanya untuk istriku seorang. Aku memang egois, seperti kaum laki-laki pada umumnya. Ingin kuputuskan komunikasi ini, tapi tidak tega. Bagaimanapun, gadisku ini sudah berkorban dengan menyerahkan miliknya yang sangat berharga padaku. Aku masih punya sedikit rasa untuk tidak “mencampakkan” dia begitu saja. Mungkin saja kata kangen itu hanyalah selubung dari maksud-maksud lain dibaliknya, kebutuhan akan materi misalnya. Mungkin saja lembaran yang kusisipkan ke dalam tas sekolahnya saat itu dianggap belum cukup untuk menebus apa yang telah ia berikan padaku. Dan beberapa kata mungkin lain yang muncul bergantian dalam pikiranku. Aku sampaikan padanya bahwa nanti sore aku akan berangkat ke ibu kota melalui kotanya, untuk menghindari kemacetan di jalur Puncak. Aku sampaikan juga kemungkinan untuk bisa bertemu dengannya, setelah sampai ke kotanya nanti malam. Euis memberiku sebuah nomor yang dapat kuhubungi, nomor yang dikeluarkan oleh salah satu operator selular di negeri ini.

Selepas jam kantor dan sedikit persiapan di rumah, akupun mengarahkan mobil kecil biruku meninggalkan kota tempat tinggalku. Kekuatan dan kecepatan mesinnya yang dahsyat tidak kumanfaatkan kali ini. Aku ingin santai sambil menikmati perjalanan. Mataku yang terlatih melirik kekiri dan kekanan sepanjang perjalanan, berharap mendapatkan sesuatu yang bisa membawaku ke petualangan dan pengalaman lain yang mendebarkan. Kondisi lalu lintas yang lancar membuat perjalananku kali ini tidak menemui hambatan yang berarti. Saat adzan Magrib berkumandang, aku telah sampai di kota Cianjur untuk sejenak beristirahat sambil menikmati minuman ringan yang dingin. Aku masih menimbang-nimbang untuk menentukan arah mana yang akan kuambil, lewat Puncak atau Sukabumi. Ingatanku pada Euis menjadi salah satu alasan hingga aku memilih jalur alternatif kedua. Siapa tau aku bisa melanjutkan petualangan dengannya lagi. Nafsuku bangkit seketika, membuat kemaluanku membesar dan mengeras. Cukup menyakitkan di balik celana Jeansku yang cukup ketat. Kuambil minuman energy dari lemari es sebelum kutinggalkan toko itu. Siapa tau aku membutuhkan energy “lebih” malam ini. Dengan kecepatan penuh, kuarahkan mobilku menuju kota Sukabumi.

Beberapa kilometer menjelang masuk kota, kucari nama Euis dari dalam Address Book telepon genggamku, lalu kuhubungi. Kamipun sepakat untuk bertemu di toko “Y..”, salah satu swalayan besar dan terkenal yang ada di kota itu. Suaranya yang halus dan ceria membuatku tidak sabar untuk segera menemuinya. Kutekan pedal gas mobilku dalam-dalam, membuatnya berlari dengan kecepatan sangat tinggi. Sampai di tujuan, kuparkir mobilku di tempat yang mudah untuk keluar, lalu akupun masuk ke dalam toko yang besar dan sangat ramai itu. Diantara keramaian orang yang akan berbelanja atau sekedar berjalan-jalan, kulihat Euis berdiri sendirian sambil membaca tabloid remaja. Malam itu Euis mengenakan kaos ketat berwarna merah dipadukan dengan celana Jeans biru, serasi dengan kulitnya yang tidak terlalu putih. Lekuk tubuhnya yang ramping dan seksi semakin jelas terlihat. Ia membawa Travelling Bag yang tidak terlalu besar, yang digeletakkan di lantai sebelah kakinya. Kuhampiri dia lalu kutegur. Lanjut baca!

No comments :

Post a Comment

Leave A Comment...

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia